Assalamu'alaikum, Wr Wb
Tak tahan dibelit kemiskinan, Markiah dengan membawa anaknya yang
berumur tiga tahun melompat dari sebuah jembatan di Pulo Empang kota
Bogor awal Juli lalu untuk mengakhiri hidupnya. Pada Maret lalu di
Bandung, seorang ibu bunuh diri karena tak tahan atas himpitan
kemiskinan. Saat itu, sang ibu, Herawati lebih dahulu membunuh anaknya
dengan ditenggelamkan ke selokan, lalu ia menyayat lengannya sendiri
hingga akhirnya tewas.
Juni lalu seorang tukang ojek gantung diri di rumahnya di Cengkareng,
Jakarta Barat. Lalu di awal Juli, seorang tukang bakso juga gantung
diri di kawasan Ciracas, Jakarta Timur. Kedua pria itu sama-sama bunuh
diri diduga karena tidak tahan menghadapi himpitan ekonomi.
Bahaya Kemiskinan
Kemiskinan tidak jarang juga menyebabkan pelaku selain bunuh diri
juga membunuh anak atau anggota keluarga yang menjadi tanggungannya.
Pelaku khawatir akan masa depan anaknya itu.
Pada pertengahan April lalu, di Bekasi seorang ayah membunuh anaknya
setelah ditinggal kabur istri karena tak tahan himpitan ekonomi. Sang
ayah yang depresi karena tidak punya pekerjaan tetap dan harus mengasuh
anak akhirnya gelap mata dan menghabisi nyawa anaknya sendiri.
Kemiskinan tak jarang juga menjadi biang ketakharmonisan keluarga.
Himpitan ekonomi banyak menjadi pangkal percekcokan hingga perceraian.
Badan Urusan Peradilan Agama (Badilag) Mahkamah Agung (MA) mencatat
selama periode 2005 hingga 2010 terjadi peningkatan perceraian hingga 70
persen (republika.co.id, 24/1). Cerai karena persoalan ekonomi mencapai
67.891 perkara. Yang banyak terjadi kini para istri menuntut cerai
dengan alasan kurang nafkah.
Kemiskinan juga bisa memicu kriminalitas. Di Bulukumba, Sulsel,
seorang remaja (14 th) di tahan polisi setelah ketahuan mencuri uang Rp
20 ribu untuk membeli makanan guna menyambung hidup. Sementara di
Bojonegoro kakak beradik Gita siswa SMP dan Mamat kelas 6 SD bernasib
tragis digebuki warga setelah ketahuan mencuri. Keduanya hidup miskin
setelah ditinggal kedua orang tuanya mencari pekerjaan di Kalimantan
(rri.co.id, 5/5/2012).
Kemiskinan pun tak jarang menjadi alasan terjadinya berbagai masalah
sosial lain seperti pelacuran, pencopetan, perampasan dan sebagainya.
Juga tak jarang pertengkaran bahkan perkelahian ternyata
dilatarbelakangi masalah kemiskinan.
Akibat Kapitalisme-Liberalisme
Kemiskinan yang mendera sebagian rakyat negeri ini bukan karena
negeri ini miskin. Sebaliknya negeri ini kaya raya. Sebab kemiskinan di
negeri ini adalah kekayaan itu tidak terdistribusi secara merata dan
adil pada seluruh rakyat. Itu terjadi karena sistem ekonomi kapitalisme
yang diadopsi dan diterapkan di negeri ini tidak bisa mendistribusikan
kekayaan secara merata dan adil.
Karena itu pangkal penyebab kemiskinan tidak lain adalah sistem
ekonomi kapitalisme-liberal yang diterapkan di negeri ini. Dalam sistem
ekonomi ini berlaku prinsip ‘survival of the fittest’, siapa
yang kuat dialah yang menang. Akibat dari sistem kapitalisme itu,
kekayaan terkonsentrasi pada sebagian kecil orang. Menurut ekonom
Indef, Enny Sri Hartati, 20 % dari penduduk Indonesia menguasai 48 %
PDB, sedangkan mayoritas yaitu 80 % dari penduduk Indonesia hanya
menguasai 52 % PDB.
Data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) tentang distribusi simpanan bank
umum April 2012 justru menunjukkan data yang lebih ironis.Menurut
data LPS itu, dari total nilai simpanan di bank umum nasional sebesar Rp
2.894,01 triliun, ternyata Rp 1.508,71 triliun-nya (52,13%) dikuasai
oleh hanya 0,14% dari total pemilik rekening. Data itu juga
menunjukkan, 97,38 % dari total pemilik rekening hanya menguasai Rp
466,49 triliun atau 16,12 % dari total nilai simpanan, sementara itu
2,62 % dari total pemilik rekening menguasai Rp 2.427,52 triliun atau
83,88 % dari total nilai simpanan. Padahal total jumlah rekening hanya
101,532 juta atau kurang dari 50% jumlah penduduk Indonesia.
Keadaan ini diperparah diantaranya oleh maraknya korupsi dari hulu
hingga ke hilir. Juga diperparah oleh alokasi anggaran yang tidak
berpihak pada rakyat dan pengentasan kemiskinan.
Syariat Islam: Solusi Total
Kemiskinan yang terjadi di negeri ini adalah kemiskinan struktural,
diakibatkan oleh sistem dan bersifat sistemik. Masalah kemiskinan tidak
mungkin diatasi selama sistem yang menjadi penyebab utamanya yaitu
sistem kapitalisme berikut sistem politik demokrasinya terus eksis.
Solusi problem kemiskinan haruslah solusi sistemik dan ideologis,
yaitu dengan jalan mencampakkan sistem ekonomi kapitalisme liberal. Hal
itu tidak bisa dilakukan kecuali dengan juga merubah sistem kapitalisme
yang eksis. Solusi sistemik dan ideologis itu adalah dengan jalan
menerapkan syariah Islam secara utuh termasuk sistem ekonomi Islam dalam
bingkai sistem Khilafah Rasyidah.
Hanya sistem Islam lah yang bisa mendistribusikan kekayaan secara
merata dan adil. Yaitu melalui penerapan hukum-hukum Sistem Ekonomi
Islam termasuk tentang kepemilikan, tasharruf kepemilikan dan
pendistribusian harta diantara masyarakat.
Secara lebih khusus, untuk menyelesaikan masalah kemiskinan, Sistem
Islam menempuh dua strategi: ekonomi dan non ekonomi. Strategi non
ekonomi adalah dengan strategi zakat, infak dan shadaqah. Meski potensi
ziswak di negeri ini sangat besar, akan tetapi belum cukup untuk
mengatasi kemiskinan, karenanya harus diiringi oleh strategi ekonomis
yaitu melalui pemberian jaminan pemenuhan kebutuhan pokok dan asasi
masyarakat.
Pemenuhan kebutuhan pokok ditempuh dengan strategi. Pertama,
Islam memerintahkan setiap laki-laki agar bekerja untuk memenuhi
kebutuhannya dan keluarganya. Dalam hal ini negara wajib menyediakan
lapangan kerja untuk rakyat, baik dengan pendekatan langsung maupun
tidak langsung. Secara langsung negara bisa membuka lapangan kerja
melalui proyek-proyek pembangunan.
Sedangkan secara tak langsung,
negara harus menciptakan iklim usaha yang sehat dan kondusif.
Diantaranya dengan sistem administrasi dan birokrasi yang mudah,
sederhana, cepat, dan tanpa pungutan. Negara juga akan menghilangkan
dan memberantas berbagai distorsi yang menghambat, seperti penimbunan,
kanzul mal (QS at-Tawbah [9]: 34), riba, dsb. Negara pun bisa
memberikan bantuan teknis, informasi, dan modal kepada rakyat yang mampu
berusaha/bekerja. Negara menghilangkan sektor non riil, sehingga harta
berputar di sektor riil sehingga berefek langsung pada perekonomian
riil.
Kedua, jika individu itu tetap tidak mampu, maka beban tersebut dialihkan kepada ahli warisnya. Ketiga, jika kerabat tidak ada atau tidak mampu, maka beban itu beralih ke baitul mal yakni kepada negara. Nabi saw. bersabda:
« اَنَا أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ
أَنْفُسِهِمْ، مَنْ تَرَكَ مَالًا فَلِأَهْلِهِ، وَمَنْ تَرَكَ دَيْنًا
أَوْ ضِيَاعًا، فَإِلَيَّ، وَعَلَيَّ »
“Aku lebih utama dibandingkan orang-orang beriman daripada diri
mereka, siapa yang meninggalkan harta maka bagi keluarganya, dan siapa
yang meninggalkan hutang atau tanggungan keluarga, maka datanglah
kepadaku, dan menjadi kewajibanku.” (HR. Ibnu Hibban)
Sedangkan pemenuhan kebutuhan asasi masyarakat yaitu pendidikan,
kesehatan dan keamanan, maka negara memenuhinya secara langsung dengan
menyediakannya kepada rakyat secara gratis atau minim biaya. Untuk
membiayai semua itu, selain berasal dari harta milik negara juga dari
hasil pengelolaan harta milik umum seperti migas, tambang, laut, danau,
sungai, hutan dan sebagainya.
Wahai Kaum Muslimin di Kumogakure
Kemakmuran desa ini akan bisa riil dirasakan seluruh rakyat per
individu hanya jika kekayaan negeri ini diatur dan diurusi menggunakan
syariah Islam yang dterapkan secara utuh dalam bingkai Khilafah Rasyidah
‘ala minhaj na-nubuwwah. Sekaranglah saatnya kita memperjuangkan
dengan penuh kesungguhan. Allah SWT berfirman:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ
Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan
Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan
kepada kamu (QS al-Anfal [8]: 24)


0 komentar:
Posting Komentar