Assalamu'alaikum, Wr Wb
Segala puji hanya bagi Allah SWT yang telah memberi kita kesempatan
menikmati keberkahan bulan Ramadhan dan menyampaikan kita ke sepuluh
hari terakhirnya. Semoga Allah SWT izinkan kita menyempurnakan Ramadhan
ini dengan shaum dan segenap amalan ibadah dan ketaatan di dalamnya
serta meraih derajat takwa. Hingga tiba saatnya nanti gema takbîr, tahlîl, dan tahmîd
kita kumandangkan sebagai wujud kesadaran kita bahwa kita adalah kecil
dan hanya Dia yang Maha Agung, sebagai bukti ketundukan kita kepada-Nya
bahwa tidak ada ilâh yang wajib disembah kecuali Dia, dan
sebagai pernyataan syukur kita bahwa segenap kenikmatan yang kita
rasakan hanyalah berasal dari-Nya.
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kalian
berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian
agar kalian bertakwa” (TQS. al-Baqarah [2]: 183).
Ayat tersebut menegaskan bahwa yang diseru untuk melaksanakan shaum
adalah orang-orang beriman. Artinya, iman merupakan landasan dalam
pelaksanaan shaum tersebut. Rasulullah Muhammad SAW juga bersabda:
«مَنْ صاَمَ رَمَضاَنَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ»
“Barangsiapa shaum bulan Ramadhan dengan iman dan semata mengharap ridha Allah maka ia diampuni dosanya yang telah lewat” (HR. Bukhari dan Muslim).
Sabda Nabi ini menegaskan bahwa keimanan harus dijadikan landasan
dalam menjalankan shaum Ramadhan. Jadi Ramadhan sejatinya adalah
momentum untuk mengokohkan keimanan kita semua. Sehingga, seusai
Ramadhan, kita sebagai umat Islam akan memiliki keimanan yang tangguh,
dan merasakan betapa manisnya keimanan tersebut.
Sayang, sebagian kalangan umat terbaik (khairu ummah) ini
belum merasakan kokoh dan manisnya iman. Buktinya, masih ada di antara
umat Islam yang menolak penerapan syariat Islam sebagai pengatur
kehidupan. Masih ada kaum Muslimin yang menjadikan hukum dan tata nilai
buatan manusia seperti demokrasi, hak asasi manusia, pluralisme,
sekulerisme, dan kapitalisme sebagai landasan dan sistem kehidupan.
Padahal, bukankah keimanan kita menyatakan bahwa hanya Allah SWT sajalah
yang berhak menentukan hukum? Allah SWT berfirman:
أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ
“Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum)
siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang
yakin?” (TQS. al-Maidah [5]: 50).
Sungguh mengherankan bila masih ada di antara umat Islam ini yang
masih mencari-cari dalih untuk menolak hukum al-Quran. Di manakah letak
pengakuan mereka bahwa mereka beriman kepada al-Quran? Mengapa mereka
rela menerapkan syariat Islam dalam shalat, shaum, haji, zakat, dan
nikah; namun belum rela menerapkan Islam dalam masalah hudud, jinayat,
perekonomian, pemerintahan, dsb? Padahal, Allah SWT berfirman:
أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ
وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ فَمَا جَزَاءُ مَنْ يَفْعَلُ ذَلِكَ مِنْكُمْ
إِلَّا خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ
إِلَى أَشَدِّ الْعَذَابِ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ
“Apakah kalian beriman kepada sebagian kitab dan kufur terhadap
sebagian. Maka tidak ada balasan bagi orang yang melakukan hal itu di
antara kalian kecuali kenestapaan pada kehidupan dunia, dan pada hari
kiamat mereka akan dikembalikan ke dalam siksa yang amat pedih. Dan
Allah tidak lalai terhadap apa yang kalian lakukan” (TQS. al-Baqarah [2]: 85).
Saat ini pemerintah Amerika Serikat berencana membangun kedutaan
besarnya di Jakarta menjadi 10 lantai, dengan luas 3,6 hektar. Gedung
sebesar itu akan dijadikan sebagai markas intelijen dan militer
sebagaimana di Irak dan Pakistan. Gedung itu akan dijadikan fasilitas Marine Security Guard Quarters (MSGQ)
yakni markas garda keamanan laut. Namun, pemerintah justru mengizinkan.
Dan kebanyakan kaum Muslimin diam. Bukankah ini merupakan jalan bagi
orang-orang kafir untuk menguasai kaum Muslimin? Seharusnya orang-orang
beriman tidak boleh melakukan hal itu, sebagaimana firman-Nya:
]وَلَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلاً[
"Dan Allah tidak akan pernah memberikan jalan kepada orang-orang kafir untuk menguasai kaum mukminin" (TQS. an-Nisa: 141).
Menteri Kesehatan membuat program kondomisasi, termasuk di kalangan
remaja. Tindakan ini merupakan legalisasi pelacuran dan seks bebas di
kalangan remaja. Orang-orang beriman tentu akan menolak kondomisasi ini,
sebab mereka mengimani firman Allah SWT yang mengharamkan zina:
]وَلاَ تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلاً[
"Dan janganlah kalian mendekati zina sesungguhnya zina itu berbuatan keji dan seburuk-buruknya jalan" (TQS. al-Isra` [17]:32).
Hingga hari ini, kaum musyrik di Myanmar membantai kaum Muslimin
Rohingya. Mereka diusir. Mereka terpaksa hidup dalam pengungsian dengan
kondisi yang sangat mengerikan. Namun, para penguasa Muslim tak berbuat
apa-apa. Padahal, orang-orang beriman seharusnya berupaya untuk membantu
mereka, sebab mereka beriman pada firman Allah SWT:
]وَإِنِ اسْتَنْصَرُوكُمْ فِي الدِّينِ فَعَلَيْكُمُ النَّصْرُ [
"Jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan" (TQS. al-Anfâl [8]: 72).
Demikianlah, kita harus terus mengokohkan keimanan kita. Dengan
keimanan ini, kita akan amar merindukan ampunan dan surga Allah SWT dan
takut akan azab-Nya yang pedihnya tiada tara.
Rasulullah SAW mengajarkan bahwa keimanan harus dibarengi dengan
keterikatan terhadap hukum syariah Islam. Banyak nash-nash yang
mengaitkan iman dengan keterikatan terhadap hukum Islam, dan
menghubungkan keimanan dengan amal salih. Di antaranya Allah SWT
berfirman:
]فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ
حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُوا فِي
أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا[
"Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga
mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan,
kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap
keputusan yang kamu berikan, dan mereka menerima sepenuhnya" (TQS. an-Nisâ [4]: 65).
Ayat ini menegaskan, keimanan harus menyatu dengan penerapan dan
perjuangan menegakkan syariat Islam. Kekokohan iman sejatinya harus
makin mendorong kita semua untuk terikat dengan syariat Islam dan terus
memperjuangkannya. Dan, syariat Islam tidak akan sempurna dilaksanakan
secara kaffah tanpa adanya Khilafah. Karena itu, keimanan kita
semestinya makin mendorong kita untuk terus berjuang menegakkan syariah
dan Khilafah.
Boleh jadi, ada orang yang menganggap bahwa khilafah itu utopis.
Namun, bagi orang yang beriman tegaknya syariah dan Khilafah itu
merupakan wujud keyakinan dan keimanan yang nyata. Khilafah akan
mengokohkan agama ini. Khilafah akan menegakkan tauhid. Bagaimana
mungkin Khilafah disebut khayalan, padahal Khilafah itu merupakan janji
Allah SWT, Zat yang tidak pernah mengingkari janji.
]وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا
مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ
كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ
دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ
خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لاَ يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ
كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ[
"Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang beriman di antara
kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh
akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah
menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia
akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka,
dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada
dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan
tiada menyekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang
(tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang
fasik" (TQS. an-Nûr [24]: 55).
Ayat ini menegaskan janji Allah SWT akan kembalinya khilafah. Imam
Ibnu Katsir menegaskan makna ayat ini: “Ini merupakan janji dari Allah
SWT kepada Rasulullah SAW bahwa Dia akan menjadikan umatnya para
khalifah di bumi” (Tafsîr al-Qurân al-‘Azhîm, hal. 357).
Wahai Kaum Muslimin Di Desa Kumogakure
Saatnya kita makin mengokohkan keimanan kita. Dengan keimanan, segala
keragu-raguan tentang syariat Islam dan Khilafah, yang dilontarkan oleh
setan, baik dari kalangan jin dan manusia, insya Allah tak akan mampu
menggoyahkan keimanan kita. Dengan iman pula, kita akan terus berjuang
menegakkan syariah dan Khilafah. Kita tidak akan takut kepada siapapun
selain Allah SWT. Kita tidak takut kehilangan rezeki, karena kita yakin
rezeki itu berasal dari Allah Zat Maha Kaya. Kita tidak akan takut
terhadap ancaman siapapun, sebab tidak ada siksaan yang pedih selain
siksa neraka di akhirat kelak. Keimanan yang kokoh pun akan menjadikan
kita rindu akan surga yang penuh kenikmatan. Kita pun tidak akan terbuai
dengan kesenangan dunia, sebab dunia ini hanyalah perhiasan yang
menipu. Dengan keimanan, kita akan menjadi orang-orang yang optimis
dalam perjuangan. Sebab, kemenangan berupa tegaknya syariah dan Khilafah
itu merupakan janji Allah SWT, hanya tinggal masalah waktu saja. Tugas
kita adalah memperjuangkannya. Untuk itu, marilah kita bersama-sama
mengokohkan iman dan berjuang menegakkan syariah dan Khilafah.
Wallâh a’lam bi ash-shawâb.


0 komentar:
Posting Komentar